Banyak buku terkait Learning to Learn, contohnya a Mind for Numbers-nya Barbara Oakley. Tapi buku-buku itu tidak meninggalkan impresi yg dalam. Mungkin karena saya semakin tua, saya memerlukan buku yg lebih filosofis.

Ketemulah dengan Mastery, buku dari Robert Greene.

Vibe-nya beda dengan buku-bukunya yg lain. Buku ini saya rasa lebih kalem. Tidak se-dark The 48 Laws of Power, tidak se-jlimet The Law of Human Nature, tidak semenarik The 33 Law of War.

Tapi deep-nya dapat.

Mungkin saya rasa, saya sedang membutuhkan bukunya saat ini. Berbeda dengan pembacaan sebelumnya, tidak ada ikatan emosional yg dalam.

Mastery itu adalah sebuah aktivitas untuk

Menemukan Life Task

Konsepnya sama dengan buku Find Your Why, tapi menurut saya lebih mudah pemaknaannya.

Life Task tidak melulu dengan impian masa kecil. Intinya adalah kamu menemukan spark di misi hidup kamu.

Bagaimana cara kamu menemukan life task:

  • Kamu harus connect - reconnect kecenderunganmu yg unik. Ini dimensi perasaan, ada sesuatu yg membuat kamu tertarik di satu bidang
  • Ketika sudah mulai memutuskan, kamu harus bisa memastikan career path yg akan kamu tempuh. Disini kamu akan mendefinisikan kerja dengan lebih luas. Life task tidak membedakan kamu dan pekerjaanmu. It’s your calling
  • Pada akhirnya kamu akan menyadari bahwa langkah kedepan itu pasti tidak mulus. Jalannya tidak lurus. Banyak hal yg harus kamu terima dalam petualangan ini.

Ada anggapan bahwa ketika kamu sudah menemukan Life Task, kamu tinggal mengikuti langkahnya. Jalannya akan terbuka secara alami.

No. Menjalani sebuah Life Task memerlukan rencana dan strategi. Karena namanya motivasi itu hanya sesaat. Motivasi bisa dikalahkan oleh realita.

Apprenticeship

Ketika kamu sudah menemukan Life Task, kamu harus masuk ke mode: Apprenticeship

Mode ini berasal dari Middle Ages, dimana artisan di masa lalu mengalami masalah kualitas karyanya. Solusinya adalah mereka membuat sistem pendidikan selama 7 tahun kepada artisan junior.

Saya cukup pusing ketika mulai semangat belajar skill akhir-akhir ini. Ternyata saya belum switch mode apprentice.

Pada awalnya ketika kamu berada di mode ini, tujuannya bukanlah mendapatkan uang (yg lebih banyak), posisi (yg lebih menarik) atau titel (yg lebih mentereng). Tapi tujuan utamamu adalah melakukan transformasi pribadi.

Kamu harus mengingat masa mudamu yg naif. Dimana semua kemungkinan itu bisa dijelajahi.

3 Esensi Apprentice

Deep Observation

Sebagai apprentice, kamu harus memahami bahwa dunia yg akan kamu jalani memiliki aturan, prosedur dan dinamika sosial. Yg pasti ada simbol kekuasaan disana.

Kesalahan pemula menjadi apprentice adalah kamu ingin di notice dan dikagumi oleh peer dan mentor kamu. Well, jika kamu seperti ini kamu sudah melanggar law 1 di The 48 Laws of Power: Never Outshine the Master

Harusnya kamu tetap invisible. Jika ingin diingat, kamu harus diingat sebagai murid yg serius ingin belajar (dan tentu menghormati senior, peer dan master).

Realitas yg kamu hadapi:

  • Ada rules dan langkah2 di ekosistem itu
  • Siapa yg memegang kendali sebenarnya.
Skill Acquisition
  1. KUASAI 1 SKILL dulu
    Jangan kemaruk. Kuasai skill fundamental terlebih dahulu
  2. Belajar dan menguasai skill itu akan menemukan banyak hal yg tidak enak. Embrace it!
    Belajar itu tidak selamanya menyenangkan. Embrace hal-hal yg ga enak dan ga bikin nyaman
Experimentation

Kamu harus terus menerus eksperimen sampai di taraf “kayaknya udah mentok ini”. Apabila sudah sampai disitu. Next untuk upgrade lagi!

Strategi untuk menyelesaikan Apprenticeship

  1. Ambil value-nya, bukan uangnya
  2. Kamu harus terus menerus memperluas cakrawala
    Banyak hal-hal baru yg menarik.
  3. Kamu harus merasa inferior
    Jangan merasa superior. Milikilah inferiotas anak-anak. Mereka membutuhkan orang tua tapi mereka tidak takut untuk belajar dan mencoba hal-hal baru
  4. Percayailah Prosesnya
  5. Hambatan dan kesusahan? Bagus! Embrace it!
  6. Kamu harus belajar dari kesalahan demi kesalahan
  7. Kombinasikan Know dan What
  8. Selalu Trial dan Error