Buku ini membahas akar sejarah Bangsa Indonesia yg bermula dari penindasan dan penjajahan yg dilakukan oleh penjajah. Seringkali penindasan dan penjajahan tersebut terlewat maknanya.
Buku dari Parakitri T Simbolon ini memang sudah berusia hampir 30 tahun. Tapi saya rasa masih relevan untuk dibaca.
Buku ini ada 4 bab, tapi ketika saya membacanya sampai akhir ada rasa belum puas. Karena dari bab 1 sampai selesai itu hanya 40% dari keseluruhan buku. 60% sisanya adalah lampiran dan catatan kaki.
Selain itu, buku ini hanya selesai ketika menjelang kemerdekaan. Ibarat film, buku ini belum sampai puncaknya tapi sudah dipaksa untuk selesai.
Tapi wajar. Ketika buku ini dibuat, masih dalam masa orde baru.
Bab 1 - Kekuasaan Lokal dan Kedatangan VOC
Menceritakan bagaimana penguasa lokal berkuasa. Di masa itu nusantara tidak dijajah oleh India, namun anehnya agama Hindu berkembang pesat.
Ada hipotesis bahwa hal itu menunjukkan agama menjadi salah satu sarana pengukuh kekuasaan raja. Kekuasaan yg sangat feodal ini ditunjukkan dengan bagaimana sastrawan kuno melakukan puja-puji kepada para raja. Raja adalah separo dewa.
Sayangnya materi nusantara kuno masih sangat kurang. Bahkan sampai saat ini saya pribadi (dan banyak orang) tidak mengetahui sejarah kerajaan nusantara. Pengetahuan sebatas nama kerajaan, siapa rajanya, kapan runtuhnya.
Hanya itu saja. Ironisnya sejarah Majapahit dan Sriwijaya yg populer dituliskan oleh peneliti asing. Sama dengan sejarah Pangeran Diponegoro, dituliskan oleh penulis asing.
Kedatangan penjajah eropa juga mulai dituliskan disini.
Yang menarik adalah bagaimana sekilas sejarah pendirian Batavia. Dimana Batavia sebenarnya hanya sebuah pelabuhan kecil. Namun bangsa Belanda membangun benteng juga disana.
Batavia adalah eksperimen penjajah. Dimana segregasi penduduk dibuat untuk mencegah persatuan kekuasaan lokal. Dijelaskan bahkan nanti ada 40 jenis tipe penduduk.
Disini dijelaskan bahwa VOC sebagai serikat dagang, memiliki keistimewaan sebuah negara. Hal itu bisa terjadi karena pada dasarnya, Belanda di 1600an adalah kumpulan 6-7 provinsi yg melepaskan diri dari Spanyol.
Bab 2 - Masa Hindia Belanda
Di masa ini, Eropa sedang bergolak karena Revolusi Peranci yg menyebabkan pergeseran kekuasaan dari kerajaan ke pemodal. Efeknya adalah feodalisme mengalami keruntuhan (di eropa sana)
Selain itu Belanda menjadi vassal-nya Perancis, bisa dibilang dijajah.
Efek dari penjajahan itu, Daendels dikirimka Batavia untuk mempertahankan nusantara dari penguasaan Inggris.
Menariknya, setelah Belanda merdeka dari Perancis, nusantara malah dikelola oleh Raffles yg merupakan bangsa Inggris. Tidak lama sih. Tapi cukup menarik hal ini.
Di masa ini penguasa lokal menjadi kaki tangan penjajah. Sebuah absurditas mengingat feodalisme runtuh di Eropa tapi tetap dipertahankan di nusantara.
Bab 3 - Benih Kebangsaan
Penjajah memang tidak berminat untuk memajukan bangsa jajahan. Tujuan mereka adalah untuk menyerap sumber daya alam demi pundi-pundi kas negara penjajah.
Efek kerja sama penjajah dengan kaki tangannya yg merupakan penguasa lokal, membuat Belanda semakin luas daerah jajahannya.
Namun dibalik itu mulai tumbuh benih kebangsaan:
- Kesatuan ekonomi
- Kesatuan administrasi politik
- Kesatuan budaya
Bab 4 - Bangkitnya Kesadaran dan Non Kooperasi
Dengan terpenuhinya prasyarat tersebut, awal abad ke-20 menandai babak baru pergerakan modern—mulai dari berdirinya Budi Utomo, Sarekat Islam, hingga Indische Partij.
Ketika ruang kerja sama melalui Politik Etis menemui jalan buntu dan diwarnai penolakan terhadap aspirasi rakyat (seperti Petisi Soetardjo), kaum pergerakan mengambil jalur radikal dan non-kooperasi (seperti yang digelorakan oleh Perhimpoenan Indonesia dan PNI).
Puncaknya, melalui Sumpah Pemuda 1928, rakyat dan kaum terpelajar meleburkan sekat-sekat kedaerahan, menegaskan diri sebagai satu bangsa—Indonesia—yang berjuang di atas kekuatan dan kemampuan sendiri.
Sayangnya transisi ke kemerdekaan Indonesia itu pondasinya belum kuat. Kondisi ini diperparah dengan trauma penjajahan, feodalisme yg masih mendarah daging dan tingkat pendidikan yg teramat rendah.
Mungkin karena itulah sampai saat ini negara Indonesia masih terbelenggu dan belum bisa